• SMP FK BINA MUDA CICALENGKA
  • KIPAS: Kreatif, Inovatif, Prestasi, Asri, Santun

Untuk Arini

Untuk Arini

Karya:

Fanny Hanifa Muslimah, S.Pd

 

Ibu Kota, 20 Januari 2010

Untuk Arini, gadisku — tunanganku, yang mungkin saja sudah pergi menuju surga milik Tuhan.

Arini, bolehkah aku bertanya keberadaan engkau pada sang Khalik?

Bolehkah aku memeluk renjana saat dewi malam tengah berbinar dengan terang di atas cakrawala?

Bolehkah aku merasa putus asa dalam hidup setelah mengetahui jika engkau mendadak menjadi misteri milik Tuhan yang tidak pernah terjawab?

Hidupku rangup Arini. Aku tidak akan pernah bisa berdamai dengan kenyataan. Aku tahu dengan jelas bahwa sesuatu yang bernyawa akan mati jua. Namun, bukankah tak adil jika aku tak kunjung sempat bersua denganmu?

Mengapa skema yang Tuhan buat harus sekejam ini, Arini?

Arini, gadisku — tunanganku. Hatiku menjerit pilu kala membayangkan kejadian hari itu. Luka, amarah, dan rasa lumpuh masih tak kunjung jernih dalam kehidupanku.

Meski ku tolak dalam bayangan, meski mataku terbuka atau terpejam, bayangan akan orang-orang yang berlarian dikejar gelombang air setinggi puluhan meter itu selalu ada.

Tak kuasa aku membayangkan engkau berlari, terseok-seok sambil menggandeng tangan Ibumu? dengan erat. Aku tak kuasa Arini, aku tak kuasa membayangkannya barang secuil.

Arini, gadisku — tunanangku. Aku mencintai engkau dengan sepenuh hati dan jiwa raga. Dan ketahuilah, di sepertiga malamku, aku masih mendesak Tuhan agar bisa melihat engkau kembali ke dalam rengkuhanku.

Syafiq Hudayana, kekasihmu.

Ibu Kota, 20 Januari 2010

Aku menutup jurnal harianku begitu Billal, kawanku menepuk pundak seraya menyerahkan rantang, yang ku yakini berisi perbekalan lengkap yang telah disiapkan orang tua Billal.

“Ibuk membuatkan bekal untuk perjalananmu. Ibuk khawatir sekali.”

Aku menyambutnya dengan begitu takzim. “Sampaikan rasa terima kasihku pada Ibumu.”

Tepat pada saat itu juga, suara dari kapal berbahana kencang, seolah menyuruh kami para penumpang bersiap. “Sudah waktunya, Billal.”

“Hati-hati, Syafiq. Semoga kau bisa menemukan Arini.”

Aku mengangguk penuh kayakinan. “Terima kasih.”

Ya, hari ini aku akan pergi ke kampung halaman. Setelah berusaha dengan keras mencari transportasi, akhirnya aku mendapatkan transportasi menuju ke sana. Berkat bantuan dari relasi Jefferson — kerabat kerjaku dari Barat Kota, akhirnya aku mendapatkan bantuan.

“Jaga dirimu,” ucap Billal sambil memegang kedua pundakku.

“Sampaikan pesan terima kasih pada Jefferson, Danendra, juga Wiryawan. Ucapkan juga maaf bila aku banyak merepotkan.”

“Wajar jika seorang kawan merepotkan, Syafiq. Kita mengerti rasa sedihmu,” ujar Billal yang spontan membuatku tersenyum lirih.

“Terima kasih, Billal. Aku pergi dulu, pekan depan akan ku usahakan kembali.”

“Ambil waktu sebanyak yang kau mau, Syafiq. Tidak usah terlalu terbebani dengan pekerjaan kita.”

Aku mengangguk mantap, dan mulai pergi dengan langkah pelan. Sesekali aku menghela napas dan menutup mata rapat-rapat. Bayangan akan hari kemarin masih terasa dalam benakku.

Entahlah, semua terasa mimpi bagiku.

Ibu Kota, 12 Januari 2010

“Syafiq! Syafiq!! Kampung halamanmu, Syafiq!”

Aku tersentak dari tidur siang yang lelap kala Wiryawan mengguncangkan tubuhku dengan sangat keras.

“Fiq!! Syafiq!”

“Ada apa. Wan?!” teriakku dengan lantang.

“Tsunami! Kampung halamanmu!”

Wajahku yang masam habis tidur siang langsung terjaga begitu saja. Tanpa memedulikan Wiryawan dengan raut paniknya, aku tergopoh-gopoh menuju ruang televisi di tengah asrama.

Saat itu, Jefferson lah yang pertama kali menghampiriku. “Syafiq, saya turut berduka atas apa yang menimpa kampung halamanmu,” ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku.

Aku tak menggubris ucapan Jefferson, aku malah menyingkirkan tangannya dari pundakku dan berjalan tergopoh-gopoh menuju depan televisi. Pikiranku kabur seketika, kala kedua mata terpaku pada siaran televisi yang menyajikan berita tsunami setinggi puluhan meter.

Aku bahkan bisa melihat dengan jelas puing-puing bangunan yang roboh berantakan, gedung-gedung yang tenggelam, juga mayat-mayat yang bergelimpangan di atas jalan. Seolah ribuan manusia menjadi sampah dalam badai.

Aliran darahku mendidih kala teringat Arini yang pasti sedang kesusahan. Aku lantas berbalik pergi, berniat mengambil ponsel di kamar. Tapi baru saja beberapa langkah, Billal muncul dari kamarku.

“Fiq, ponselmu sedari tadi berbunyi,” ucap Billal seraya menyerahkan ponselku.

Tanpa basa-basi aku langsung merebutnya, berharap Arini dengan ajaibnya bisa menghubungiku. Namun, kenyataan pahit harus ku telan. Bukan — bukan seseorang yang ku dambakan ternyata.

“Syafiq anakku. Sudah lihat berita, Nak?”

Aku terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan Ibu. Beliau pastilah khawatir, beruntung Ibu tak lagi tinggal di kampung halaman setelah aku mengadu nasib di Ibu Kota.

“Syafiq, Arini pasti baik-baik saja. Mari berdo’a pada Tuhan.”

Seketika tangisku pecah. Persetan dengan tatapan nyalang dari kerabat kerjaku, aku tak peduli. Aku terduduk lemas, menutup wajah dengan kedua tanganku.

Arini, gadis yang sebulan lagi akan menjadi istriku, apa dia baik-baik saja?

“Fiq? Syafiq?”

Aku tidak lagi memedulikan panggilan Ibu dan langsung memutus hubungan telepon secara sepihak. Dengan cepat, aku mencari nama Arini di kontak dan menelponnya dengan penuh harap.

Satu detik, dua detik, sampai akhirnya suara operator menjawab teleponku. Aku terus mencoba dan mencoba, tak lagi peduli Billal dan kerabat kerja yang menatapku iba.

“Fiq, Syafiq! Sudah! Ponsel Arini mungkin…..”

Aku menatap ke arah Danendra dengan penuh amarah, ku cengkeram kaos polo Danendra dengan kuat. “Lancang sekali kau! Siapa yang katakan Arini hanyut?!”

Danendra terdiam, tak mampu menjawab. Sementara cengkeramanku makin mengendur kala sadar bahwa yang mengatakan Arini hanyut adalah diriku sendiri.

Wiryawan menepuk pundakku dan langsung membawaku duduk di sofa tengah ruang. “Syafiq, marilah kita berdo’a terlebih dahulu. Tenangkan dirimu.”

Aku menggeleng kencang. “Aku akan ke sana hari ini.”

“Mau naik apa, Fiq? Landasan pacu luluh lantak,” ucap Billal, yang membuatku terdiam sempurna.

“Tunggulah empat sampai sepekan, Fiq. Kau bisa naik kapal air. Jika memaksa hari ini atau esok, bukan tidak mungkin ada gelombang susulan,” ucap Danendra yang saat ini berada di depanku dengan segelas air yang ia todong depan mukaku.

Wiryawan mengangguk setuju. “Danendra benar, tunggulah empat sampai sepekan. Mungkin keadaan semesta akan sedikit membaik. Sambil menunggu, aku dan yang lain akan membantu untuk memantau berita tentang korban.”

“Aku akan mencoba mencari relasi di Barat Kota, siapa tahu ada yang bisa membantu,” ujar Jefferson.

Ibu Kota, 20 Januari 2010.

Aku mengembuskan napas dengan kencang. Pikiranku mendadak rumit dan pilu. Tubuhku bahkan ikut gemetar membayangkan bagaimana Arini di sana.

Terakhir aku menghubunginya, ia bilang jika akhir-akhir ini ia sedang giat senam pagi. “Aku harus menjaga berat tubuhku untuk pernikahanan kita, Fiq.”

Aku tersenyum miris kala menyadari ucapan Arini mungkin hanyalah angan belaka. Jika Arini sudah di atas sana, lantas apa lagi yang bisa aku angankan? Cinta? Tentu saja cintaku masih mengudara, tapi jika tanpa Arini semua hanya akan jadi hampa.

Aku memejamkan mataku dengan kuat-kuat. Berusaha mempersiapkan semuanya, karena mau tidak mau hatiku harus siap menerima segala kemungkinan yang terjadi.

source: Pinterest (https://pin.it/3GRdlbWgL)

inspired by: Di Mana Kamu, De’Na? by W.S Rendra

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
SOSOK TELADAN BERPANCASILA DALAM DUNIA PENDIDIKAN

M. Natsir sosok teladan berpancasila dalam dunia Pendidikan Oleh : Dadang Muslim   https://id.pinterest.com/pin/189573465554095200/   “Cendikiawan Dr Yudi Latif m

26/08/2025 08:03 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 293 kali
Dawai dalam Kehidupan

Dawai dalam Kehidupan Aku ingin menyukainya, sama seperti aku menyukaimu. Karya Fanny Hanifa Muslimah, S.Pd   Aku menyukai hujan lebih dari apapun. Aku bisa betah berlama

24/04/2025 21:29 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 490 kali
INDONESIAKU

INDONESIAKU Karya Kiera Azwa Iskandar (Siswi kelas VIII SMP FK Bina Muda) Ketika aku keluar dari rumah Pemandangan yang tidak kubayangkan munculBanyak sampah berserakan di sekit

18/04/2025 20:50 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 494 kali
Meraih Ramadhan Terindah

Meraih Ramadhan Terindah Oleh Dra. Elah Jamilah    Allah Berfirman Dalam Surat Al Baqoroh Ayat 183   Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibk

18/04/2025 20:43 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 480 kali
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H

Taqabbalallahu minna wa minkum, Taqabbal ya Karim Minnal Aidzin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin 1446 H   Alhamdulillah kita sudah melaksanakan ibadah shaum satu bulan p

08/04/2025 19:13 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 567 kali
PENILAIAN SUMATIF TENGAH SEMESTER 2 TAHUN AJARAN 2024 - 2025

Setiap anak merupakan individu yang memiliki keunikan masing-masing. Baik itu dari segi minat, bakat, kemampuan dan kegemaran. Dalam dunia pendidikan, hal seperti itu merupakan hal yang

15/03/2025 20:33 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 650 kali
WORKSHOP PENDIDIKAN dan KOMUNITAS BELAJAR PRAKTEK BAIK SMP FK BINA MUDA TAHUN 2025

WORKSHOP PENDIDIKAN " PARENTING POSITIF" dan KOMUNITAS BELAJAR PRAKTEK BAIK "KAIFIYAT WUDLU SHOLAT" SMP FK BINA MUDA TAHUN 2025 Dengan tema "Terbentuknya Generasi Emas dalam Bing

28/02/2025 15:31 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 689 kali
Mapag Ramadhan 1446 H bersama seluruh civitas Yayasan Pendidikan dan Sosial Bina Muda

Marhaban Ya Ramadhan.. Seluruh Yayasan Pendidikan dan Sosial Bina Muda khususnya SMP FK Bina Muda telah melaksanakan "Mapag Ramadhan" dengan pemateri Dr. H. Nase Saepudin Zuhri, S.Ag,

23/02/2025 20:53 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 586 kali
Yayasan Bina Muda Cicalengka Menggelar Acara Pelantikan Kepala Sekolah serentak dari TK – SDIT – SMP FK – SMA Periode Tahun 2024-2028

Oleh: Hilmi Fauziah, S.Pd.   CICALENGKA — Yayasan Pendidikan dan Sosial Bina Muda mengadakan acara pelantikan kepala sekolah dari jenjang Taman Kanak-kanak sampai tingkat S

02/11/2024 21:19 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 1214 kali
Komunitas Belajar IPB (IPS, PJOK, BK)

Menghidupkan Diskusi Awal Kemajuan PeradabanOleh : Dadang Muslim, S.Pd Di hari Selasa pukul 06.08 ada pesan Undangan pertemuan di Grup WhatApps Komunitas Belajar Dalam Sekolah “I

07/03/2024 12:34 - Oleh Humas SMP FK Bina Muda - Dilihat 1395 kali